Berita Ekonomi Inflasi Membengkak 0.2 Persen, Karena BBM Naik

Berita Ekonomi Inflasi Membengkak 0.2 Persen, Karena BBM Naik

Berita Ekonomi Inflasi Membengkak 0.2 Persen, Karena BBM Naik

Berita Ekonomi Inflasi Membengkak 0.2 Persen, Karena BBM Naik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat 0,2 persen setiap bulan (Maret ke bulan) pada Maret 2018. Dibandingkan tahun sebelumnya, inflasi ini tercatat 3,4 persen persen pada tahun (tahun ke tahun / yoy ).

Berita Ekonomi Inflasi Membengkak 0.2 Persen, Karena BBM Naik. Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan karena kenaikan inflasi, inflasi pada tahun kalender (tahun ke hari) tembus 0,99 persen. Dia melanjutkan rata-rata seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga sepanjang Maret.

Untuk inflasi pengeluaran makanan, misalnya, inflasi tercatat sebesar 0,14 persen setiap bulan, yang dipengaruhi oleh peningkatan harga cabai merah, bawang putih, dan bawang merah.

Bukan hanya bahan makanan, komponen makanan jadi dan belanja tembakau 0,26 persen inflasi selama Maret disebabkan oleh kenaikan harga rokok kretek 0,1 persen. Selain itu, inflasi tertinggi, yaitu pengeluaran kesehatan dengan nilai 0,37, tetapi kontribusinya terhadap inflasi sangat kecil, yaitu 0,01 persen.

Di antara semua kelompok yang memberikan kontribusi inflasi, Suhariyanto menilai kelompok transportasi, jasa keuangan, dan pengeluaran komunikasi sebagai penyebab inflasi pada bulan Maret. Dengan tingkat inflasi 0,28 persen.

Kontribusi ini mencapai 0,05 persen dari keseluruhan nilai inflasi. Dia mengatakan ini karena kenaikan harga bahan bakar minyak non-subsidi (BBM), seperti Pertalite dan Pertamax.

“Pada akhir Februari, Pertamax dan Pertamax Turbo meningkat, dan pada 24 Maret ada peningkatan Rp200 per liter di Pertalite, jadi kami pikir dampak dari peningkatan 24 Maret akan terus berlanjut hingga April,” tambahnya pada Senin (2) / 4).

Namun, tidak semua komoditas berkontribusi terhadap inflasi. Beras, misalnya, tidak lagi menjadi momok inflasi. Bahkan, beras menyumbang deflasi 0,1 persen ke kelompok pengeluaran makanan pada Maret 2018.

Hal ini disebabkan oleh harga kerang kering yang turun tajam karena sudah masuk musim panen. Sementara itu, GKP pada Maret berada pada level 8,65 persen secara bulanan dan harga beras di pabrik turun Rp9.698 per kilogram (kg).

“Kendati demikian, jika dilihat sesuai komponennya, inflasi gejolak pangan tercatat 0,15 persen karena ada lonjakan harga rempah-rempah,” jelasnya.

Selain itu, dari 82 kota yang mensurvei CPI bulan lalu, masih ada 25 kota yang mencatat deflasi. Sementara itu, deflasi tertinggi terjadi di Tual dengan nilai 2,3 persen dan deflasi terendah di Bulukumba 0,01 persen.

“Dengan target 3,5 persen APBN, 3,4 persen inflasi tahunan masih tepat,” jelasnya.